Teks Saja
Cari

 
Akankah Pemilu Kongres Berdampak terhadap Kebijakan Luar Negeri AS?

08/11/2006

Democratic supporters in the western city of Portland, Oregon, Tuesday, November 7, 2006
Berdasarkan penghitungan suara Pemilu Kongres Amerika, Partai Republik kini harus berbagi kekuasaan dengan Partai Oposisi, Partai Demokrat.

Partai Demokrat saat ini unggul di DPR dengan perolehan suara 229-147, sementara keberadaan mereka di Senat masih bergantung pada hasil penghitungan suara di dua negarabagian, Virginia dan Montana.

Mengingat isu yang diusung Demokrat adalah Irak, dipastikan Iraklah yang akan menjadi agenda utama Kongres selama dua tahun terakhir kepemimpinan Presiden George W. Bush.

“Bila Demokrat mengambil alih salah satu badan Kongres, akan ada insentif untuk menyelidiki badan eksekutif, dan Demokrat akan berupaya menyeret Administrasi dengan penyelidikan non-stop selama dua tahun ke depan,” demikian menurut pengamat politik Stephen Wayne.

Joseph Lieberman
Joseph Lieberman
Tapi sebagian pengamat pesimis, kemenangan Demokrat akan mengubah kebijakan luar negeri Amerika secara drastis.

“Walaupun banyak yang melihat pemilu ini sebagai referendum atas Irak, pemilu ini sebenarnya tak punya dampak langsung terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Akan ada kesempatan bagi Kongres untuk mempengaruhi kebijakan luar negeri, tapi Presiden Bush masih akan tetap memiliki kebijakan yang sama tentang pembangunan kembali Irak, pembangunan demokrasi di Timur Tengah dan mengisolasikan Korea Utara dan Iran,” ujar pengamat politik Brian Darling dari The Heritage Foundation.

Sementara itu, walaupun perhatian Washington kini tetuju pada Irak, itu bukan berarti diplomasi dengan negara-negara sahabat seperti Indonesia akan tertunda. Bahkan, kekuasaan Demokrat di Kongres berarti akan lebih banyak perhatian pada masalah hak asasi manusia. 

“Akan ada lebih banyak tekanan dari Kongres kepada presiden, tapi presiden sendiri tidak akan dipengaruhi oleh ini. Dan ini juga akan berlaku kalau Demokrat menjadi presiden, mereka lebih memperhatikan masalah HAM,” demikian analisa Bill Liddle, pengamat politik dari Ohio State University.

Dan meskipun hubungan Washington-Jakarta belakangan membaik, hadirnya para pengambil keputusan baru patut diwaspadai.

“Dengan adanya orang-orang baru yang masuk ke DPR dan mungkin Senat, akan muncul berbagai isu baru. Apakah ini akan bersifat konstruktif atau substansial bagi Indonesia, akan bergantung pada isu-isu yang muncul, berita dari Jakarta, dan sebagainya,” kata Alphonse La Porta, presiden US-Indonesia Society.

Sampai berita ini diturunkan, nasib kedua partai di Senat Amerika masih bergantung pada penghitungan suara di Virginia dan Montana.

emailme.gif E-mail artikel ini kepada teman
printerfriendly.gif Versi Cetak
  Berita Utama
Obama Inginkan Kerangka Persetujuan Pembatasan Persenjataan Baru di Moskow

  Berita Lainnya
Kekerasan Terjadi di Bandara Tegucigalpa Sementara Zelaya Menuju Honduras
Ban Ki Moon Prihatin Korea Utara Isolasikan Diri
Joe Biden: Israel Punya Hak Bertindak Terhadap Iran Tanpa Persetujuan AS
PM Maliki Berusaha Selenggarakan Pemilu di Kirkuk Sebelum Januari
Ulama-Ulama Pro-Reformasi Iran Protes Hasil Pemilu
Penggemar Michael Jackson Tunggu Pemberitahuan Soal Tiket
Sinyal Kotak Hitam Pesawat Yaman Terdeteksi
Irak Menentang Keterlibatan Asing dalam Proses Rekonsiliasi
Sekjen PBB Marah kepada Para Pemimpin Birma
AS Rayakan Hari Kemerdekaan 4 Juli