Tampilan Standar

VOANews.com
News in 44 languages


 
Kelompok HAM Desak Malaysia Hentikan Menahan Pengungsi Muslim Birma

06/08/2007

Etnis Rohingya di kamp pengungsi
Kelompok hak asasi manusia Organisasi Hak Asasi Manusia Etnis Rohingya Myanmar telah meminta pemerintah Malaysia berhenti menahan pengungsi Muslim Birma sebagai bagian dari operasi menumpas pendatang haram.

Menurut organisasi itu, dalam beberapa hari belakangan pihak berwajib Malaysia telah menangkap lebih dari 500 imigran termasuk sekitar 150 etnis Rohingya dari Birma. Pemerintah Malaysia belum mengkonfirmasi angka tersebut. 

Rohingya adalah minoritas Muslim dari Birma timur laut yang menyelamatkan diri dari penindasan yang dilancarkan pimpinan militer Birma.

Ketua kelompok hak asasi Rohingya itu, Zafar Ahmad hari Senin menghimbau pemerintah Malaysia agar mengizinkan Rohingya tinggal di Malaysia. Dewasa ini ada sekitar 12 ribu Rohingya yang tinggal di Malaysia dan oleh PBB diakui sebagai pengungsi.

Tetapi Malaysia tidak menandatangani Konvensi PBB tentang pengungsi dan memperlakukan sebagian besar pengungsi sebagai pendatang haram.

 

Berita Terkait
Elected Burmese Lawmakers Send Letter to UN Secretary-General
Anggota Parlemen Terpilih Birma Kirim Surat kepada Sekjen PBB
 
Berita Utama
PM India Tiba di Amerika dalam Kunjungan Kenegaraan

Berita Lainnya
Presiden Iran Kunjungi Brazil
Australia Selidiki Kerusuhan di Pusat Penahanan Imigrasi
Taylor Swift Menangkan 5 Penghargaan Musik Amerika
Tentara Pakistan Tewaskan Lebih Dari 30 Militan di Barat Laut
Korban Kecelakaan Kapal Ferry di Selat Malaka Capai 29 Orang
Parlemen Irak Gagal Selesaikan RUU Pemilihan Umum
Korban Kecelakaan Tambang Batubara Tiongkok Capai 92 Orang
Iran Latihan Perang untuk Atasi Kemungkinan Serangan atas Fasilitas Nuklirnya
Senat AS Siap Adakan Perdebatan Penuh Tentang RUU Jaminan Kesehatan
Rumah Sakit Angkatan Darat di Fort Hood Dengarkan Kesaksian Tersangka
5 Tersangka Serangan 11 September akan MengakuTidak Bersalah
Srilanka akan Bebaskan Pengungsi Perang Tamil
4 Luka-Luka akibat Serangan Roket di Kabul