Teks Saja
Search

 
Bush Akui AS Masuki Masa Perekonomian Yang Sulit

14/03/2008

President Bush gestures while speaking about economy during address before The Economic Club of New York, 14 Mar 2008
Presiden Bush di Economic Club, New York
Presiden Bush mengakui Amerika Serikat sedang memasuki masa perekonomian yang sulit, tetapi dia juga menyatakan optimisme ekonomi akan bangkit kembali. Bush mengatakan itu dalam pertemuan Economic Club of New York hari ini.

Pidatonya itu diucapkan pada pekan saat dollar mencatat nilai terendah dan harga minyak dan emas mencapai rekor baru. Presiden Bush mengakui pertumbuhan ekonomi telah melambat, harga rumah merosot, dan harga minyak dan pangan melonjak.

Tetapi katanya, dia yakin Amerika Serikat telah mengambil langkah-langkah penting yang akan membantu membalikkan perekonomian.

Seorang anggota Kongres Demokrat terkemuka sesudahnya mengecam presiden Amerika itu, dengan mengatakan pidatonya hari ini membuktikan dia tidak mempedulikan pandangan rakyat Amerika dan para pakar ekonomi.

Senator New York Charles Schumer – anggota komite keuangan Senat – juga mengatakan Bush terlalu lamban dalam menanggapi masalah ekonomi negara, yang membuat pemulihan kembali menjadi lebih sulit lagi.

 

emailme.gif E-mail artikel ini kepada teman
printerfriendly.gif Versi Cetak

  Berita Terkait
Bush Acknowledges Economic Woes, Expresses Optimism
US Central Bank Chief Pledges to Help Struggling Homeowners
US Treasury Unveils Guidelines to Ease Credit Markets
US Dollar Drops to 12-Year Low Against Japanese Yen
 
  Berita Utama
Obama Bersiap-Siap untuk Jamuan Makan Malam Kenegaraan yang Pertama

  Berita Lainnya
Pelosi Sampaikan Terimakasih kepada India karena Terima Dalai Lama
Pemimpin Iran Berkunjung ke Bolivia
Rusia: Perundingan Nuklir Satu-Satunya Pilihan Korea Utara
Perselisihan Anggota Parlemen Irak Bisa Tunda Pemilu Nasional
Obama Puji Hubungan AS-India Dan Akan Berkunjung Ke India Tahun Depan
Perselisihan Anggota Parlemen Irak Bisa Tunda Pemilu Nasional
Polisi Inggris Bersedia Bayar Ganti Rugi untuk Penembakan Seorang Pria Brazil
Filipina Nyatakan Keadaan Darurat Setelah Terjadinya Pembantaian Bermotif Politik
Tiongkok Eksekusi Dua Orang dalam Skandal Susu yang Tercemar
Thailand Berlakukan UU Keamanan Keras Jelang Demonstrasi
Iran Tidak Menentang Pengiriman Uranium ke Luar Iran
Pakistan Tewaskan 18 Militan
PM India Melawat US