VOANews.com

Bahasa Indonesia ▪ Indonesian Sumber Informasi Terpercaya sejak 1942

 
Berita dalam 45 Bahasa
Uni Afrika Tolak Kerjasama dengan Mahkamah Internasional

03/07/2009

Omar al-Bashir (file photo)
Omar al-Bashir
Para pemimpin Afrika menyetujui resolusi tidak akan bekerjasama dengan Mahkamah Kejahatan Internasional (ICC) yang menghendaki presiden Sudan, Omar al-Bashir ditangkap karena dituduh melakukan kejahatan perang. Resolusi disetujui dengan suara bulat dalam KTT di Libia hari Jumat. Dikatakan di situ bahwa para anggota Uni Afrika tidak akan bekerjasama menangkap dan menyerahkan presiden Sudan kepada Mahkamah.

Jaksa Mahkamah menuduh Bashir selaku otak kampanye perkosaan, pembunuhan dan kejahatan lain terhadap warga sipil di daerah Darfur, Sudan di mana pasukan pemerintah bertempur melawan pemberontak sejak tahun 2003.

Sebelumnya pada hari sama, para pemimpin Afrika sepakat memperbesar kekuatan Uni Afrika dalam langkah menuju pembentukan Negara Afrika Serikat yaitu wawasan yang sudah lama ada pada ketua Uni Afrika sekarang – pemimpin Libia, Moammar Gadhafi.

Langkah itu dirancang untuk memberi Uni Afrika kekuatan mengkordinasi upaya keamanan dan diplomatik termasuk kebijakan perdagangan dan pertahanan.




E-mail This Article E-mail artikel ini kepada teman
Print This Article Versi Cetak
  Berita Utama
Presiden Obama Beri Pengampunan Kepada Kalkun Korban Thanksgiving

  Berita Lainnya
Para Donor Kumpulkan Dana Untuk Korban Siklon Nargis Di Birma
Presiden Amerika Umumkan Kebijakan Afghanistan Hari Selasa
Israel Umumkan Pembekuan Sebagian Pembangunan Pemukiman Di Tepi Barat
Pemimpin Korut Katakan Hubungan Dengan Tiongkok Tidak Terpatahkan
Israel dan Turki Tingkatkan Hubungan
Presiden Iran di Venezuela
Obama: Kemitraan AS-India  Besar dan Meningkat
AS Dukung Pemilihan Presiden di Honduras
Pesawat Antariksa “Atlantis”  Berangkat ke Bumi
Obama Bersiap-Siap untuk Jamuan Makan Malam Kenegaraan yang Pertama
Pelosi Sampaikan Terimakasih kepada India karena Terima Dalai Lama
Pemimpin Iran Berkunjung ke Bolivia
Rusia: Perundingan Nuklir Satu-Satunya Pilihan Korea Utara