VOANews.com

Bahasa Indonesia ▪ Indonesian Sumber Informasi Terpercaya sejak 1942

 
Berita dalam 45 Bahasa
65 Meninggal di India Karena Meminum Alkohol Murahan

09/07/2009

india, elections, analysis, Ravi Khanna

Kepolisian India mengatakan paling sedikit 65 orang telah meninggal karena meminum minuman keras di negara bagian Gujarat.

Kepolisian India mengatakan hari Kamis sebagian besar korban  jatuh sakit dan banyak lainnya dimasukkan ke rumah sakit setelah meminum minuman keras yang beracun Minggu malam.

Penduduk yang marah turun ke jalan-jalan untuk memrotes  kegagalan polisi menutup penyulingan alkohol gelap.   Pihak berwajib  menembakkan gas air mata untuk membubarkan demonstran.

Kematian akibat meminum minuman keras  murah,  biasa terjadi di seluruh India.

Menjual dan meminum alkohol dilarang di Gujarat. Negara bagian itu adalah tempat kelahiran pemimpin kemerdekaan India Mahatma Gandhi -- penganjur kuat pelarangan minuman keras.



E-mail This Article E-mail artikel ini kepada teman
Print This Article Versi Cetak
  Berita Utama
Obama akan Serukan Pembebasan Suu Kyi di Forum KTT ASEAN

  Berita Lainnya
AS Tuduh Iran Langgar Embargo Senjata PBB
AS, PBB Serukan Kedua Korea Tahan Diri dalam Insiden Angkatan Laut
Bom Mobil Tewaskan 24 Orang di Pakistan Barat Laut
Obama akan Bicarakan Isu HAM dalam Kunjungan ke Tiongkok
Amerika akan Kirim Utusan ke Korea Utara
NATO dan Polisi Afghanistan Sita 250 Ton Bahan Pembuat Bom
Obama Beri Penghormatan bagi Korban Penembakan di Fort Hood
Mantan PM Thailand Thaksin Tiba di Kamboja
Maois Nepal Rintangi Jalan Raya Menuju Kathmandu
Angkatan Laut Korea Utara dan Selatan Tembak-Menembak
PM Israel Netanyahu Bertemu Presiden Obama di Washington
Kanselir Jerman: Gorbachev Pencetus Runtuhnya Tembok Berlin
Obama: Sulit Bagi Iran Putuskan Soal Nuklir
Jepang Janjikan 5 Milyar Dolar Bantuan Baru untuk Afghanistan
Utusan Perancis Bertemu dengan Menlu Korea Utara
Gempa Bumi Guncang Kepulauan Nicobar India
Menlu Clinton Desak Hamid Karzai Perangi Korupsi
Tiongkok Hukum Mati Sembilan Pelaku Kerusuhan di Xinjiang