Kandidat oposisi konservatif
memenangkan pilpres Honduras
paska kudeta.
Porfirio "Pepe" Lobo memenangkan
pilpres Minggu dengan lebih dari 50 persen suara, jauh diatas Elvin Santos dari
Partai Liberal, yang sudah mengakui kekalahan. Santos adalah bekas wakil presiden dari
pemimpin yang digulingkan, Manuel Zelaya.
Pejabat pemilu memuji proses pencoblosan yang umumnya lancar serta jumlah
pemilih yang datang pada hari Minggu, meskipun terjadi sejumlah bentrokan di kota San Pedro
Sula di utara. Polisi menembakkan gas air mata untuk
membubarkan demonstran yang mendukung Zelaya, yang sebelumnya menyerukan boikot
terhadap pilpres.
Baik Zelaya maupun Roberto Micheletti, pemimpin yang didukung militer yang menggantikan
dirinya, tidak ikut dalam pilpres.
Amerika, Kosta Rika dan Peru
mengatakan mereka kemungkinan akan mengakui pilpres Minggu itu. Ini berbeda
dengan Brazil, Venezuela dan Argentina yang menolak hasil
pilpres itu.